Kamis, 14 Juni 2012

ARTI LAMBANG KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA

Lambang Daerah Hulu Sungai Utara adalah hasil ciptaan dan rencana lambang dari : Yusni Antemas, Amir Husaini, Zainuri Dimyati
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara No : 13/1963 tanggal 6 Nopember 1963, yang disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 27 September 1965 No. Des 9/27/8-188 dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Propinsi Kalimantan Selatan Tanggal 4 Pebruari 19 66 yang kemudian diubah lagi dengan Peraturan Daerah TK II Hulu Sungai Utara No : 4 Tahun 1974 Tanggal 6 Agustus 1974 maka inilah lambang daerah yang dimiliki :

A. Sebuah perisai berbentuk gothic yang melambangkan benteng pertahanan lahir dan pertahanan bathin.

B. Didalam perisai terdapat lukisan-lukisan :
Kubah, melambangkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kesucian hati untuk melaksanakan segala Perintah-Nya dan Larangan-Nya.
Mihrab, melambangkan kepemimpinan yang jujur dan berwibawa, ketaatan kepada pemimpin yang benar dan ketabahan dalam menghadapi segala kesulitan.
Haur Kuning Tujuh Belas Ruas, merupakan angka keramat berbentuk huruf “U” melambangkan :

U = Utara berarti Hulu Sungai Utara
U = Ulet berarti Tidak pernah putus asa
U = Unggul berarti jaya
U = Mengenangkan para leluhur dan sejarah Hulu Sungai Utara dengan kepurbakalaan Candi Agung, Putri Junjung Buih dan Lambung Mangkurat sebagai cikal bakalnya.

Daun dan Bunga Teratai, melambangkan Hulu Sungai Utara sebagai daerah rawa yang dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Juga saat terbentuknya Kabupaten Hulu Sungai Utara (1 Helai Daun Teratai, 5 Kelopak Bunga, 5 Helai Kelopak Bunga Bagian Bawah, 2 Helai Mahkota Bunga Bagian Atas) sehingga terbentuk angka 1-5-52 ( 1 Mei 1952) hari jadi Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Kapas dan Padi, melambangkan tujuan untuk kemakmuran sandang dan pangan.
Buah Karet dan Daun Karet, melambangkan penghasilan pokok rakyat daerah Hulu Sungai Utara.
Padi, Kapas, dan Buah / Daun Karet, melambangkan bahwa Hulu Sungai Utara adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ( 17 biji buah padi, 8 kuntum bunga kapas, 4 biji buah karet, 5 helai daun karet) memberikan makna 17 – 8 – 45.
Piala, melambangkan, sungai Tabalong dan Sungai Balangan yang bertemu menjadi Sungai Negara yang menuju laut lepas, yang bergelombang lima, berarti Pancasila yang merupakan falsafah hidup bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat Hulu Sungai Utara pada khususnya. Kesetiaan terhadap cita-cita yang benar. Keunggulanyang dicapai berkat keuletan dalam usaha.
Bidang Hijau Mendatar, melambangkan kesuburan.
Tepi Keliling (Dalam) Warna Kuning Emas, melambangkan kemuliaan.
Tepi Keliling (Luar) Warna Hitam, melambangkan keteguhan tekad dan kepercayaan terhadappribadi sendiri.

Motto Lambang Bertuliskan “AGUNG” melambangkan :
Agung  : Adalah lambang kata-kata kebenaran yang mengandung nilai       pendidikan, keluhuran budi, dan cita-cita rakyat Hulu Sungai Utara.
Agung     : Adalah kewibawaan dan keluwesan pemerintah mengemban amanah rakyat
Agung     : Adalah besar dan berwibawa serta disegani
Agung     : Adalah kesetiaan, ketaatan, kepatuhan (loyalitas) kepada pemerintah.
Agung     : Dalam bahasa daerah merupakan alat musik tradisional untuk menggerakan masyarakat secara gotong royong untuk mengabdi dan berbakti kepada kepentingan bangsa, negara dan agama.

C. Kesimpulan
AGUNG mengandung makna dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewibawaan dan keluwesan pemerintah untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur, sejahtera lahir dan bathin berdasarkan musawarah dan mufakat yang dijiwai oleh semangat proklamasi 17 Agustus 1945 dan UUD 1945 dengan berpijak diatas landasan Pancasila.
Akronim kata AGUNG semakin berkembang pada saat pelaksanaan pembangunan yang dapat diartikan.
A           : Aman dalam situasi
G           : Gagah dalam melaksanakan pembangunan
UNG     : UNGgul dalam meraih prestasi.

Rabu, 13 Juni 2012

Amuntai Kotaku

Kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara



Amuntai adalah ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara. Ejaan Amuntai di zaman pendudukan Belanda adalah Amoenthaij, Amoenthay[1].Pada zaman Hindia Belanda dahulu dipakai sebagai nama kawedanan/Distrik Amuntai (Amoenthaij) dan juga pernah dipakai sebagai nama kabupatennya yaitu Kabupaten Amuntai. Dahulu kota Amuntai adalah sebuah kecamatan utuh hingga dimekarkan menjadi 3 kecamatan, yakni :


Amuntai Selatan dengan luas 174 km² dan jumlah populasi penduduk 26.545 jiwa
Amuntai Tengah dengan luas 80,50 km² dan jumlah populasi penduduk 46.631 jiwa
Amuntai Utara dengan luas 37 km² dan jumlah populasi penduduk 21.262 jiwa.[2]

Di kecamatan Amuntai Tengah-lah pusat pemerintahan dan perdagangan kabupaten Hulu Sungai Utara yang ditandai dengan adanya kantor bupati, kantor-kantor dinas pemkab Hulu Sungai Utara, sentra perdagangan, dan sarana/prasarana lainnya dan Amuntai Tengah merupakan kecamatan dengan penduduk terpadat di kabupaten Hulu Sungai Utara.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Amuntai


Maskot Kota Amuntai


Semua kota mempunyai keunikan dan kekhasan nya sendiri, begitu pula dengan kota amuntai ini. Dikota ini terdapat hewan khas, yaitu “itik mamar” (di kenal dengan sebutan itik alabio) dan ”Kerbau Rawa”.

Kedua binatang ini dijadikan maskot kota amuntai, bahkan di kota amuntai terdapat dua ekor patung itik yang sangat besar dan dua ekor patung kerbau.

Itik


Pada umumnya orang mengenal itik alabio, yang sebenarnya sentral penetasan dan peternakannya terdapat didesa mamar. Desa ini terletak sekitar 5 Km dari kota Amuntai. Dimana didesa ini mayoritas masyarakatnya beternak itik dan menetaskan telur itik. Dalam satu bulan ratusan ribu anak itik ditetaskan didesa ini, untuk selanjutnya dipasarkan. Adapun sebutan itik alabio karena tempat pemasaran utamanya terdapat di alabio kecamatan Sungai Pandan.

Itik mamar sudah merambah pasar nasional, bibit-bibit itik ini dipasarkan sampai keluar provinsi kalimantan selatan. Harga itik dipatok dari besarnya permintaan , perbandingan antara itik jantan dengan itik betina sangat jauh , dimana harga itik betina mencapai 300% sampai 400% lebih mahal dari itik jantan.

Adapun cara penetasan nya ada dua cara:

1. dengan cara menggunakan mesin dengan panas lampu yang sudah otomatis.

2. dengan cara tradisional, yaitu menggunakan peti atau yang disebut dengan “Barunjung”, yang dilapisi dengan sekam padi.


Satu lagi kalau kita berkunjung kekota ini. Yaitu jangan lupa untukmenyantap itik panggang . Itik panggang merupakan makanan favorit dikota ini. Tidak jarang orang dari luar kota berkunjung ketempat ini hanya unuk menyantap itik panggang kahs kota amuntai. Walaupun didaerah lain terdapat rumah makan yang menyediakan itik panggang, namun rasa itik panggang kota amuntai lebih lezat dan nikmat, harganya pun tidak terlalu merogoh kocek kita dalam-dalam.


Kerbau Rawa

Ada lagi fauna khas kota ini, yaitu “ Kerbau Rawa”,atau dengan sebutan masyarakat setempat dikenal dengan sebutan “Hadangan”. Disebut kerbau rawa karena daerah peternakan dan pemeliharaannya didaerah rawa ( Perairan). Hampir 80% wilayah Amuntai adalah lahan rawa.


Tempat peternakan terbesar kerbau rawa ini terdapat di kecamatan Danau Panggang, sekitar 25 Km dari kota amuntai. Di kecamatan ini terdapat beberapa desa peternak kerbau rawa, diantaranya desa sapala dan ambahai . Jumlah kerbau yang diternakkan berjumlah puluhan sampai ratusan ekor, melebihi dari jumlah penduduk disatu desa tersebut.

Kerbau – kerbau dilepas dari kandanganya dari pagi hari . Kerbau-kerbau dilepas tanpa tali ikatan dilehernya, dengan kata lain dilepas bebas. Tapi tentu saja dengan pengawasan gembala gembalanya. Pengembala kerbau menggunakan sampan ( jukung ). Pada sore hari kerbau-kerbau tersebut di bawa kembali kekandangnya oleh para gembala tadi.

Kandang pada masyarakat setempat dikenal dengan sebutan “ Kalang”. Kandang / Kalang terbuat dari balok-balok kayu ulin yang disusun-susun dan ditanjapkan ketanah, pada malam hari kerbau tidur dikandang tanpa ada atap perlindungan yang memadai,kerbau termasuk hewan yang tahan terhadap cuaca dingin, dikarenakan mungkin karena kulit kerbau yang tebal.

Kabupaten Hulu sungai utara


Profil Kabupaten Hulu Sungai Utara
         Hulu Sungai Utara di kenal sebagai salah satu kawasan daerah yang tertinggal dimana 80% luas wilayah nya berupa Rawa, sehingga dianggap tidak Produktif di sisi lain pertumbuhan penduduk lamban, pendapatan asli daerah (PAD) minim, apalagi setelah adanya pemekaran wilayah, kabupaten hulu sungai utara menjadi dua yakni kabupaten hulu sungai utara dan kabupaten balangan.

         Seandainya anda adalah seorang pengambil keputusan maka kemukakan upaya-upaya yang menurut anda dapat di kembangkan guna mewujudkan kabupaten hulu sungai utara yang lebih baik dengan berpijak pada karakteristik/ profol wilayah kabupaten hulu sugai utara.


Sebelum menjawab pertanyaan di atas terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang profil kabupaten hulu sungai utara .

Letak Geografis, Iklim dan Curah Hujan
         Ditinjau secara geografis, Kabupaten Hulu Sungai Utara terletak pada koordinat antara 2º sampai 3º lintang selatan dan 115º sampai 116º bujur timur. Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara terletak di daerah dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 0 m sampai dengan 7 m di atas permukaan air laut dan dengan kemiringan berkisar antara 0 persen sampai dengan 2 persen.

       Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan geografi dan perputaran/pertemuan arus udara. Jumlah curah hujan terbanyak di tahun 2005 terjadi pada bulan Februari yang mencapai 359 mm dan pada bulan April yang mencapai 351 mm dengan jumlah hari hujan masing-masing 14 dan 19.

Data penggunaan tanah pada tahun 2005 di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, yaitu:

 * Kampung seluas 4.283 ha
 * Sawah seluas 23.853 ha
 * Kebun campuran 1.859 ha
 * Hutan rawa 29.711 ha
 * Rumput rawa 22.768 ha
 * Danau seluas 1.800 ha
 * Penggunaan lainnya seluas 1.224 ha

Luas Wilayah

Luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah ± 892,7 km² atau hanya ± 2,38 persen dibandingkan dengan luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan.

         Dengan luas wilayah sebesar 892,7 km² ini, sebagian besar terdiri atas dataran rendah yang digenangi oleh lahan rawa baik yang tergenang secara monoton maupun yang tergenang secara periodik. Kurang lebih 570 km² adalah merupakan lahan rawa dan sebagian besar belum termanfaatkan secara optimal.
Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Hulu Sungai Utara berdasarkan hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 adalah 209.037 jiwa tersebar di 219 kelurahan/desa. Kabupaten dengan luas wilayah 892,7 km² ini memiliki kepadatan penduduk (population density) 220 jiwa per km² dan rata-rata setiap keluarga terdiri dari 4 orang. Laju pertumbuhan penduduk Hulu Sungai Utara antara tahun 2000–2010 sebesar 0,61% dan merupakan urutan terendah untuk kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.
Lain-lain
Di kabupaten ini terkenal dengan dengan fauna khasnya, yaitu Itik Mamar atau itik Alabio dan kerbau rawa (Latin: Bubalus bubalis) di kecamatan Danau Panggang dan kecamatan Paminggir.


       Sebagaimana kita maklumi bersama keadaan Geografis daerah hampir 80% merupakan daerah rawa,dengan wilayah terbanyak berada di kecamatan Danau Panggang, Babirik, dan Paminggir.Yang di tinjau dari segi pemanfaatannya hanya di pergunakan sebagian kecil oleh masyarakat untuk perikanan dan pertanian serta sebagian besar lagi belum dikelola dengan baik.

      Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Hulu Sungai Utara sangat menuntut pemikiran kita bersama untuk memberikan solusi kepada pemerintah daerah yang di harapkan sebagai bahan pertimbangan dalam mengelola segala potensi daerah khususnya pemanfaatan daerah rawa yang belum potensial menjadi daerah rawa yang dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.


Adapun batas-batas wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sebelah Utara berbatasan dengan propinsi Kalimantan Tengah dan kabupaten Tabalong; sebelah Selatan berbatasan dengan kabupaten Hulu Sungai Selatan dan kabupaten Hulu Sungai Tengah; sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Balangan; dan sebelah Barat berbatasan dengan kabupaten Barito Selatan propinsi Kalimantan Tengah.

Dari total luas wilayah yang ada di kabupaten Hulu Sungai Utara, sebagian besar terdiri atas dataran rendah yang digenangi oleh lahan rawa baik yang tergenang secara monoton maupun yang tergenang secara periodik. Kurang lebih 570 km persegi adalah merupakan lahan rawa dan sebagian besar belum termanfaatkan secara optimal.

Dengan memberdayakan semaksimal mungkin semua potensi yang ada pada hamparan rawa yang menyatu dengan kawasan rawa diharapkan dapat meningkatkan perekonomian HSU. Karena hamparan rawa yang cukup luas atau sejauh mata memandang itu bukan cuma saja potensial dengan sumber daya hayati perikanan, tapi juga berpotensi untuk multi agri bisnis, seperti pengembangan peternakan unggas jenis Itik Alabio dan kerbau.
Selain itu, usaha pertanian tanaman pangan, seperti bercocok tanam padi, terlebih dengan keberadaan Polder Alabio dan dapat berfungsi baik, maka tata air rawa sekitar kawasan tersebut bisa diatur.
dari total luas lahan yang ada di kabupaten Hulu Sungai Utara sebagian besar adalah merupakan hutan rawa dan sebagian besar lainnya merupakan lahan sawah. Hal ini menunjukkan bahwa kabupaten Hulu Sungai Utara merupakan daerah agraris.

Jadi lahan rawa dapat kita gunakan sebagai alternatif mata pencaharian masyarakat ditengah sulitnya mencari pekerjaan,pemerintah harus sangat memerhatikan dan menggunakannya dengan tepat sasaran sehingga lahan rawa tersebut di gunakan masyarakat dengan terkoordinir sehingga berjalan dgn baik.

Batas Wilayah Administrasi
 Kabupaten yang terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Selatan ini memiliki batas-batas wilayah:

Sebelah utara                : Kabupaten Barito Selatan dan Kab. Tabalong,
 Sebelah selatan            : Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kab. Hulu Sungai Selatan;
 Sebelah timur               : Kabupaten Balangan,
 Sebelah barat               : Kabupaten Barito Selatan (Provinsi Kalimantan Tengah).

Letak Geografi
 Kabupaten Hulu Sungai Utara secara geografis terletak antara koordinat 2°17 sampai 2°33 Lintang Selatan dan antara 114°52 sampai 115°24 bujur Timur.  Kabupaten Hulu Sungai Utara mempunyai luas wilayah 892,7 km2 atau hanya 2,38 persen dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan